Wawancara Seputar “Ramadan”

Ust. Ayang pernah belajar di Pondok-Pesantren Wali-Songo, Ngabar-Ponorogo (1990-1995), Pondok-Pesantren Tebu-Ireng, Jombang dan Kwagean, Kediri (1995-1996). Setelah itu, melanjutkan ke Fakultas Syariah, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1996-2001. Dari sana, ia melanjutkan ke Fakultas Syariah, Universitas al-Azhar, Kairo, pada 2001-2002. Beliau menyelesaikan S-2 (DEA) pada Juni, 2005, dan S-3 (PhD.) pada Januari, 2013, dalam bidang Sejarah, Filologi, dan Hukum Islam di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS), Paris, Prancis. Ia menjadi Visiting Research Fellow di Oxford Centre for Islamic Studies (OXCIS) di Universitas Oxford, Inggris, pada musim semi 2012, dan Visiting Fellow di Islamic Legal Studies Program (ILSP), Harvard Law School, di Universita Harvard, Amerika Serikat, pada musim semi 2013. Sekembalinya dari Paris dan Boston, sejak Januari 2014, Ust. Ayang mengajar sebagai dosen di Sekolah Pascasarjana dan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Direktur Indonesian Sharia Watch, Direktur SDIT AR-RAUDHAH Bekasi, Pembimbing Haji dan Umrah KBIH AR-RAUDHAH Bekasi, dan Wakil Pimpinan Yayasan AR-RAUDHAH Bekasi, dan peneliti di PPIM UIN Jakarta.

Berikut petikan wawancara Majalah Hidayah dengan KH. Ayang Utriza Yakin, S.Ag., DEA., PhD.

Apa makna Ramadan menurut Kyai?

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh hikmah. Ramadan adalah bulan istimewa. Paling tidak saya bisa sebutkan 2 keistimewaan Ramadan ini di antara banyak keistimewaan lainnya. Pertama, datangnya bulan Ramadan sudah membawa keberkahan sendiri bagi umat Nabi Muhammad saw. Hal ini ditegaskan dalam hadis “Izâ jâ’a ramadânu futihat abwâb al-jannati wa gulliqat abwâb al-nâri wa suffidat al-syayâtîn” artinya “Jika datang bulan Ramadhan dibuka pintu surga dan ditutup pintu neraka dan diikat para syaitan” (HR. Muslim dari Abu Hurayrah dalam Sahih Muslim, juz VII, h. 187). al-Qadi ‘Iyadl menjelaskan bahwa hadis ini menggambarkan betapa istimewanya kedatangan bulan Ramadan.

Ketika Ramadan masuk, maka pintu surga dibuka dan setan diikat. “Futihat abwâbul jannah” “Dibuka pintu surga” bermakna banyaknya ganjaran dan pahala yang disediakan di bulan Ramadan dan dibukanya pintu maaf. Allah membuka pintu surga untuk para hamba-Nya agar dapat melakukan ketaatan dan kebajikan sebanyak mungkin di mana keistimewaan bulan ini tidak dapat dijumpai di bulan lain. “Wa ghulliqat al-syayâtîn” “Diikat setan”, maksudnya agar kaum muslimin selamat dan terhindar dari pengaruh dan godaan setan dan terhindar dari melakukan maksiyat sehingga menjadi sebab masuk ke dalam surga Allah (Imam Muslim, Sahih Muslim Bisyarh al-Nawawi, XVIII vols. Beirut : Dar Ihya al-Turas al-‘Arabiyy, tanpa tahun, cet. IV, vol. VII h. 188.). Artinya apapun yang kita lakukan pada bulan tersebut baik atau buruk adalah muncul dari keinginan diri kita sendiri. Kita harus dapat mengendalikan diri sehingga menghasilkan manusia bertakwa.

Kedua, pada setiap malam bulan Ramadan, Allah memberikan keistimewaan bagi umat Islam. Allah berfirman hingga tiga kali “Hal min sâ’ilin fa’u‘tîhi su’lahu, hal min tâ’ibin fa’atûbu ‘alayhi hal min mustaghfirin fa’aghfiru lahu” (Tak ada seorang pun yang berdoa, kecuali pasti aku kabulkan, tidak ada seorang pun yang bertaubat, kecuali pasti aku terima taubatnya, tak ada seorang pun yang meminta ampun kepadaku, kecuali pasti aku ampuni) (hadis dari Ibn ‘Abbas ra., lihat Abu Lays al-Samarqandi, Tanbîh al-Gâfilîn, Semarang: Maktabat Tâha Putra, t.t., h. 117-8). Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan sebaik mungkin setiap malam bulan Ramadan ini dengan salat tarawih, tadarus Alquran, dan berdoa. Bulan puasa ini adalah waktu mustajab, yaitu waktu di mana doa-doa kita didengar oleh Allah dan pasti Allah kabulkan. Jangan sia-siakan kesempatan ini.

Jika bulan Ramadan ini dijalani dengan penuh kesungguhan, yaitu dengan sepenuh keimanan kita dan hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka Allah berjanji akan mengampuni dosa-dosa kita, sebagaimana sabda Rasulullah saw. ”Man shâma ramadhâna îmânan wa ihtisâban ghufira lahu ma taqaddama min zanbihi” (Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharapkan ganjaran, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu, (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i dan Abu Dawud). Allah berjanji bahwa Allah pasti akan mengampuni dosa-dosa kita sebesar apapun dosa kita, kecuali syirik, dengan syarat setelah bulan Ramadan ini kita tidak lagi melakukan kesalahan dan maksiyat yang pernah kita lakukan sebelum bulan Ramadan.

Kenapa bulan Ramadan membuat sebagian besar masyarakat Indonesia mendadak nampak lebih “agamis” dan “Islami” ? Positifkah atau sebaliknya?

Menjadi lebih baik tentu itu anjuran dan tujuan beragama, tetapi “mendadak islami”, “mendadak lebih beragama,” “mendadak saleh” menimbulkan pertanyaan. Mengapa hal itu terjadi? Ada kesan bahwa menjadi baik itu hanya di bulan Ramadan; menjadi saleh itu terjadi saat berpuasa. Dan sebaliknya, di luar Ramadan, kita bisa berbuat semau kita, tanpa mempedulikan aturan dan ajaran agama. Ini adalah cara berpikir sebagian umat yang salah kaprah. Di bulan Ramadan tidak mengumbar aurat, selain bulan itu: bebas, tubuh transparan. Di dalam bulan Ramadan tidak ada korupsi, di luar Ramadan setiap hari penuh dengan tipu-tipu dan muslihat untuk ‘menggarong’ uang rakyat. Di dalam bulan Ramadan, salat 5 waktu, baca Alquran, penuh perhatian kepada yatim-piatu, tetapi di luar bulan puasa, hanya sibuk dengan urusan dunia. Jelas sekali ini salah. Memaknai Ramadan sebagai bulan kesalehan, tetapi 11 bulan yang lain sebagai bulan kemaksiyatan. Cara pikir seperti ini tentu berbahaya. Kecenderungan seperti ini tentu kurang menggembirakan. Sebagian umat berpikir bahwa kesalehan hanya perlu dilakukan dalam 1 bulan dari 12 bulan. Yang harus dijelaskan kepada umat bahwa berbuat baik dan menjadi baik itu terjadi pada setiap hari, setiap bulan, dan sepanjang tahun, bukan hanya Ramadan.

Kenapa Ramadan menjadi ajang komodifikasi; banyak laku kapitalistik berpuncak di waktu Ramadan dan kemudian berlanjut Idul Fitri?

Ramadan benar-benar membawa berkah bukan saja bagi umat Islam, tetapi agama lain, secara ekonomi, sosial, dan spiritual. Secara ekonomi, semua pedagang apapun dapat meraih laba yang lebih besar ketimbang bulan lain. Semua orang kecipratan rezeki Ramadan. Bulan puasa memang membawa berkah bagi semua orang. Bagi pemilik media massa, baik koran apalagi televisi, Ramadan adalah saatnya naik rating suatu acara dan banyaknya orang menonton. Bagi pedagang, apapun yang diperdagangkan, Ramadan adalah bulan keuntungan yang luar biasa. Para pedagang meraup keuntungan lebih besar di bulan Ramadan daripada bulan lainnya. Ini dikarenakan umat Islam lebih banyak berbelanja di bulan Ramadan. Pengeluaran umat Islam di Ramadan meningkat dan melonjak tajam. Hal ini terjadi karena umat Islam berbelanja untuk buka puasa dan sahur dan untuk itu mereka menyajikan makanan yang lebih enak, banyak, dan beragam, sehingga mengakibatkan pembengkakan pengeluaran bulanan.

Konsumerisma selama bulan Ramadan tentu menyedihkan, karena ini bertentangan dengan inti dari Ramadan. Puasa bertujuan mengendalikan nafsu. Ramadan mendidik kita untuk makan dan minum seperlunya. Ramadan mengajarkan kita untuk memperhatikan kaum duafa dan mustadafin. Tetapi, lihat apa yang terjadi. Saat buka puasa, semua jenis hidangan ada semua. Untuk ta’jil atau buka puasa itu beda,mulai dari es kopyor, es cendol, es timunsuri, es kolang-kaling sampai kolak ubi, kolak pisang ada di meja makan. Untuk menu utama, semua bentuk makanan ada di atas meja makan. Inna lillahi, semua makanan dan minuman mau disantap, seakan-akan kita ini hanya akan hidup pada malam itu saja, dan besok kiamat… Semua kita makan. Bukankah, ini justeru bertentangan dengan pesan dari puasa itu?

Demikian juga, saat Lebaran. Menjelang Ramadan, umat Islam berbelanja pakaian baru untuk menyambut hari raya Idul Fitri. Semua orang berpakaian baru. Seakan ada kesan bahwa lebaran tidak sah, jika tidak memakai pakaian baru. Astagfirullah, ini salah. Ada hikmah dalam bahasa Arab: “Laysal ‘îdu liman labisal jadîd, walakinnal ‘îda liman tâ’atuhu tazîdu”, bukanlah Idul Fitri itu bagi yang berpakaian baru, tetapi Idul Fitri adalah bagi mereka yang ketaatannya bertambah. Makna inilah yang tidak ditangkap oleh kebanyakan dari kita. Lebaran menjadi ajang pamer pakaian baru, mobil baru, dan semua serba baru. Yang tidak mampu membeli baju pun terpaksa membeli walau harus berhutang. Tidak sedikit, setelah Ramadan dan Lebaran banyak orang berhutang. Sekali lagi, ini bertentangan dengan makna Ramadan dan semangat Lebaran. Ini dari Ramadan adalah menjadikan manusia lebih bertakwa: lebih sederhana dalam hidup, lebih memperhatikan orang yang lemah dan terlemahkan, dstnya., tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Jika demikian, tidak ada makna apapun dari menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Sia-sia.

Bagaimana seharusnya menjalani Ramadan yang dititahkan agama Islam? Bisa disebutkan rujukan berdasarkan kitab klasik untuk menjelaskan ihwal ini?

Berpuasa pada bulan Ramadan bukan saja menahan lapar dan haus, tetapi juga harus mempuasakan mulut dan mata. Jika tidak, maka puasa kita akan sia-sia saja. Puasa seharusnya dapat membawa kepada pada puasa mulut, yaitu dapat mengendalikan lidah. Imam Abd al-Wahhâb al-Sya’rânî dalam kitabnya Tanbîh al-Mughtarrîn (Semarang: Maktabat Tâhâ Putra, t.t., hlm. 83) menulis bahwa Muhammad al-Rahibi, seorang sufi besar mengatakan «man adkhala bi bathnihi fudlula al-tha’ami kharaja min lisanihi fudlûlu al-kalami» ‘Siapa yang banyak memasukkan makanan ke dalam perutnya, maka akan banyak mengeluarkan omongan dari mulutnya.’ Orang yang berpuasa yang telah menahan perutnya dari lapar, seyogyanya dapat mengendalikan mulutnya. Jika tidak, maka dapat dipastikan puasanya tidak memiliki arti apa-apa. Malik Ibn Dinar, seorang sufi besar mengatakan ‘Kalâmun la ya’nihi yuqsi al-qalba wa yuhinu al-badan wa yu’assira al-rizqa’ «Pembicaraan yang tidak berguna akan membuat hati mati, melemahkan badan, dan menutup pintu rezeki) (al-Sya’rânî, Tanbîh al-Mughtarrîn, h. 84). Oleh karena itu, kita harus menjaga mulut dan mata kita dalam berpuasa.

Hujjatul Islam Imam Abû Hâmid al-Ghazâlî di dalam karyanya Mukhtashar Ihyâ’ Ulumiddîn (Beirut: Dâr al-Fikr, 1993/1414, h. 61) menukil suatu hadis bahwa Rasulullah bersabda « khamsun yuftirna al-shâ’ima : al-kizbu, wa al-ghîbah, wa al-namimah, wa al-yamîn al-kâzibah wa al-nazhru bisyahwatin, artinya : «Lima hal yang membatalkan orang puasa: bohong, gibah, mengadu domba, sumpah palsu, dan melihat dengan nafsu). Jika ditelaah hadis ini nampak bahwa empat hal yang dapat membatalkan puasa disebabkan oleh mulut dan satu oleh mata. Jadi, puasa yang benar adalah puasa yang mengendalikan mulut dan mata. Jika kita tidak dapat menjaga mulut dan mata kita, maka benar sabda Nabi Muhammad saw. ‘kam min shâ’imin laysa lahu min shawmihi illa al-jû’i wa al-‘atsy’ «Berapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak ada nilai puasanya, kecuali lapar dan haus » (HR. Nasa’i dan Ibn Majah).

Bagaimana agar Ramadan punya dampak kesalehan sosial, bukan sekadar kesalehan individual dan ibadah semata?

Puasa harus dimaknai sebagai wahana pendidikan diri. Ramadan harus menjadi kawah candradimuka bagi setiap muslim. Bulan Ramadan mendidik kita tidak makan di siang hari, walaupun tidak dilihat orang. Ini mendidik kita harus jujur di manapun dan kapanpun, walau tidak terlihat orang, karena kita yakin ada yang Maha Menatap. Dengan sikap jujur ini, saya yakin tidak ada lagi korupsi yang menjadi penyakit bangsa kita ini. Jadi, kalau kita berpuasa, tetapi masih “maling” duit rakyat, memakan harta yang bukan miliknya, menggunakan kekayaan yang bukan haknya, maka sia-sia puasa yang dijalankan. Puasa hanya menjadi ibadah semata, tetapi tidak berperan apa-apa bagi kehidupan pribadi, apalagi bagi lingkungan sekitar di mana ia tinggal dan bekerja. Puasa mengajarkan kita menahan dahaga lapar dan haus. Ini mendidik kita agar peduli kepada kaum duafa dan mustadafin: bagaiman pedihnya mereka tidak makan berhari-hari dan sulit menemukan apa yang bisa dimakan. Tetapi, kalau setelah Ramadan tidak ada kepedulian kita kepada yatim-piatu dan fakir-miskin, maka percuma kita berpuasa. Hanya menggugurkan kewajiban, tetapi tidak punya pengaruh dalam perubahan prilaku. Puasa yang benar adalah puasa yang memberikan dampak dan perubahan bagi diri, keluarga, dan lingkungan di mana kita tinggal dan bekerja.

Bagaimana Kyai mendidik keluarga [istri dan anak-anak] tentang Ramadan ini?

Alhamdulillah, anak-anak sudah menjalankan puasa sejak kelas I di sekolah dasar atau berusia 6 tahun. Saya tidak pernah mewajibkan dan menyuruh mereka berpuasa. Tetapi, kita beri teladan kepada mereka bahwa puasa itu berguna untuk kesehatan dan untuk pelajaran bagaimana sulitnya saudara-saudara kita yang miskin, dari sana akan muncul kepedulian sosial yang tinggi. Saya cerita tentang sejarah puasa dan makna puasa. Karena, anak-anak melihat kita berpuasa, maka mereka pun ikut berpuasa. Untuk anak pertama Afra Rayhana Yakin, lahir 2006, saya tidak mewajibkannya, tetapi ia dengan kesadaran sendiri berpuasa penuh sebulan, kecuali sakit. Untuk anak kedua Akhtar Farras yakin, lahir 2008, dia berpuasa sebisa dia, dari subuh sampai magrib. Tetapi, terkadang, ia tidak kuat dan minta makan. Saya tidak marah. Hanya mendorong dia agar esok dapat berpuasa lagi, jika kuat. Berpuasa bagi anak kecil itu tidak wajib. Yang kita lakukan adalah mendorong mereka dan mengajarkan mereka berpuasa dari sedini mungkin agar saat sudah besar, mereka tidak lagi merasa berat menjalankan puasa. Istri memberikan penyemangat agar anak-anak puasa, seperti hadiah dan menu buka puasa atau sahur sesuai dengan selera atau permintaan mereka. Kita ciptakan suasana Ramadan dengan ceria dan riang.

Apakah Kyai selalu melakukan itikaf? Bisa berbagi pengalaman bertitikaf dan kiat-kiatnya untuk masyarakat?

Harus jujur saya katakan, setelah lulus S-1, saya lebih banyak melaksanakan Ramadan di luar negeri, saat di Kairo, Paris, dan Oxford. Kebetulan Ramadan jatuh pada musim panas dan malam hanya 6 jam. Salat tarawih selesai jam 24 atau 1 dini hari. Tidak lama dari itu, waktu sahur tiba, jadi iktikaf hanya sebentar. Di luar itu, secara umum, hanya melakukan iktikaf biasa di masjid bersama jemaah lainnya. Tapi, harus saya ungkapkan bahwa saya lebih suka menyendiri di rumah daripada di masjid, sementara yang dinamakan iktikaf di bulan Ramadan itu harus di masjid dan tidak kembali ke rumah. Iktikaf yang sesungguhnya dilakukan saat saya di Pesantren. Menyendiri, jauh dari keluarga. Sekarang, hal itu sulit dilakukan. Kiat untuk iktikaf adalah benar-benar jauh dari keluarga dan tidak kembali ke rumah, selama bulan Ramadan, atau paling tidak 10 hari terakhir untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merenung tentang diri kita. Iktikaf yang benar akan terlihat hasilnya pasca Ramadan pada 11 bulan yang akan datang. Pelaku iktikaf yang benar akan menjadi orang yang baik dan membaikkan lingkungan sekitarnya. Kalau ada yang iktikaf, tetapi setelah itu masih korupsi, masih tidak peduli dengan kaum duafa dan mustadafin, merasa benar sendiri dan paling berhak masuk surga, masih kasar terhadap anak-isteri, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, berarti iktikafnya sia-sia.

Apakah Kyai punya pengalaman khusus seputar Ramadan yang begitu melekat dan mengubah hidup Kyai? Bisakah dibagi bagi pembaca?

Kesungguhan kita menjalankan Ramadan dan memaknainya untuk hidup akan merubah perjalanan hidup kita. Satu hal yang selalu saya minta saat buka puasa, saat mustajab doa, dan saat malam Ramadan, saya ingin menggapai pendidikan setinggi mungkin di luar negeri dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. Saya pikir doa saya terkabul. Satu hal yang harus diyakini adalah semua doa yang kita panjatkan saat Ramadan akan terkabul sepanjang kita tulus menjalankan Ramadan itu, bukan dirasakan sebagai kewajiban atau bahkan memberatkan.

Sebagai figur yang pernah mengenyam pendidikan di negeri Timur Tengah dan Eropa, tentu Kyai pernah mengalami Ramadhan di luar negeri? Bisa berbagi pengalaman Ramadan di negeri orang?

Saya pernah berpuasa Ramadan di Timur-Tengah, yaitu di Mesir, dan di Afrika Utara, Aljazair, dan di negara-negara Eropa: Inggris, Belanda, Belgia, dan paling lama di Prancis, karena tinggal di Paris hampir 7 tahun. Memang, beda sekali antara berpuasa di Eropa yang masyarakatnya bukan-Islam dengan berpuasa di negara Muslim, seperti Mesir dan Aljazair. Berpuasa di negeri Muslim tidak terlalu berat, karena semua orang menjalankan puasa Ramadan dan suasana Ramadan itu terasa sekali: baik saat berbuka puasa, saat tarawih, dan saat sahur. Alunan Azan dan tadarus Alquran terdengar di mana-mana. Warung-warung tutup saat siang hari. Malam hari ramai orang berduyun-duyung ke Masjid. Ada suasana meriah sepanjang Ramadan, terlebih menjelang Idul Fitri. Hal ini, tentu, tidak dirasakan sama sekali saat saya di Eropa, terutama di Prancis: negeri paling sekuler di bawah langit dunia ini. Berpuasa di tengah masyarakat bukan-Islam merupakan tantangan tersendiri. Kita tidak perlu meminta dihormati saat Ramadan, karena siang hari semua orang makan dan warung buka. Orang tidak mengerti dan tahu jika kita berpuasa. Hal positif dari ini adalah mendidik kita menjadi muslim yang ikhlas dan tidak perlu pujian atau meminta orang menghargai kita yang berpuasa. Sungguh dahsyat pengalaman berpuasa di Eropa itu.

Selain itu, berpuasa saat musim panas di mana siang lebih panjang, hal tersebut merupakan ujian tersendiri. Misalnya, kita harus sahur jam 3 dini hari dan baru berbuka jam 21 atau 22. Kita berpuasa antara 18-19 jam. Setelah itu, kita melaksanakan salat tarawih pada jam 22 atau 23 dan selesai pada jam 24 atau 1 dini hari. Setiap malam, di hampir semua masjid di Prancis, Imam membaca 1 juz Alquran, jadi cukup lama. Bayangkan, jika kita harus bekerja keesokan harinya? Tidur hanya beberapa jam, tapi siang hari kita harus beraktifitas seperti biasa, karena perusahaan atau sekolah/universitas tidak mau tahu bahwa kita ini berpuasa. Tidak boleh urusan agama masuk ke dalam urusan pekerjaan. Sungguh, ini tidak ringan.

Pada awalnya berat sekali, tetapi setelah hari pertama, biasa saja. Semua ini mengajarkan kita umat Islam Indonesia harus bersyukur di mana letak negara kita berada di garis khatulistiwa yang perputaran antar siang dan malam itu sama: siang 12 jam dan malam 12 jam. Dibanding dengan Eropa, puasa di Tanah Air lebih pendek waktunya. Oleh karena itu, amat mengherankan jika masih ada umat Islam yang tidak berpuasa dengan alasan tidak makan dan minum. Umat Islam di Eropa, mereka harus berpuasa di teriknya musim panas dengan waktu yang lebih panjang di tengah masyarakat yang tidak berpuasa dan harus bekerja atau belajar seperti biasa. Umat Islam Indonesia harus banyak bersyukur.

Apakah ada pengalaman spesial selama menjalani Ramadhan di negeri orang?

Pengalaman paling berkesan, tentu, saat puasa bersama keluarga di Paris pada musim panas. Berpuasa lebih lama: 18 jam dan salat tarawih hingga larut malam: mulai jam 22.30 dan selesai jam 24 atau 1 dini hari. Saya dan isteri pernah salat tarawih di Mosquée de Paris, masjid agung Paris, dengan membawa kedua anak saya, saat Ramadan musim panas itu. Masya Allah, salat Tarawih selesai jam 00.30. Anak-anak sudah tertidur, tidak ada lagi angkutan umum, dan untungnya di Prancis ada angkutan umum khusus dini hari. Saya dan isteri berkata: sungguh umat Islam Indonesia harus banyak bersyukur. Pengalaman yang amat khusus dan tak terlupakan ini membekas di dalam diri saya. Hal ini mendidik saya agar menjadi orang yang ikhlas dan tidak riya dalam hal ibadah. Biarlah Allah yang menilai, bukan diri kita, apalagi orang lain.

 

Sumber: Majalah Hidayah, edisi Juli 2015.

Leave a Reply