Gaung Islam Aswaja An-Nahdliyyah di Bumi Jerman

Munich, NU Online – Pada Hari Ahad, 23 April 2017 yang lalu, PCINU Jerman telah sukses mengadakan acara silaturrahim dan pengajian sekaligus konferensi cabang (konfercab) sebagai agenda utamanya. Acara yang dilaksanakan di Munich ini dihadiri oleh sekitar 60 Nahdliyyin dari berbagai kota lainnya di Jerman antara lain Berlin, Bremen, Duisburg, Freiburg, Göttingen, Ilmenau, Karlsruhe, Kassel, dan Ulm. Sehari sebelumnya, beberapa hadirin yang telah tiba terlebih dulu di Munich disambut hangat oleh Rais Syuriyah PCINU Jerman, Kiai Syaeful Fatah, dengan menu bakso.

Pada hari pelaksanaanya, sambutan Kiai Syaeful Fatah dilanjutkan dengan sambutan ketua Tanfidziyah, Zacky Umam dalam rangkaian acara pembukaan sekitar pukul 10:00 pagi waktu setempat. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan berkumpul ini, para hadirin kemudian membaca Maulid untuk menambah kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Kiai Syaeful Fatah melanjutkan rangkaian acara dengan memberikan ceramah singkat seputar Aswaja An-Nahdliyyah. Ia menekankan pentingnya kejelasan sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW dalam mempelajari Islam aswaja. Tradisi inilah yang sudah dimiliki oleh Nahdlatul Ulama sejak awal berdirinya dan masih terus dipertahankan hingga sekarang.

Acara kemudian berlanjut menuju sesi seminar dan diskusi dengan judul NU dan Tantangan Islam Nusantara Ditengah Gerakan Islam Transnasional dan Islam Transaksional dengan narasumber Ayang Utriza Yakin, DEA., PhD. Wakil Ketua LTM-PBNU 2015-2020 yang juga akrab disapa Gus Ayang ini menjelaskan tentang sejarah Nahdlatul Ulama dari sudut pandang kondisi lokal dan global disekitar masa pendiriannya.

Di samping itu, peneliti yang pernah mengikuti program visiting research fellow di University of Oxford ini juga menjelaskan bahwa Islam Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyyah (aswaja) adalah suatu usaha mendamaikan pertentangan antara penafsiran tekstual yang terlalu kaku dengan penafsiran yang terlalu bebas dengan berpegang pada prinsip tawassuth (tengah-tengah), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleransi).

Saat sesi diskusi berlangsung, ia juga menyayangkan apabila istilah Islam Nusantara disalahpahami sebagai sebuah upaya membuat agama baru. Padahal sejatinya ia tidak lain adalah upaya untuk mengawinkan ajaran Islam dengan adat budaya setempat selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits sebagai dasar hukum tertinggi dalam agama Islam. Di penghujung diskusi, ia berpesan bahwa pada prinsipnya perbedaan pendapat di antara umat Islam adalah suatu hal yang niscaya dan tetap perlu disikapi dengan arif dan bijaksana.

Setelah makan siang diikuti dengan sholat dhuhur berjamaah, acara dilanjutkan dengan pembacaan surat Yasin dan tahlil. Agenda Konfercab PCINU Jerman sendiri kemudian dimulai pukul 15:00 dengan laporan pertanggungjawaban pengurus PCINU Jerman masa bakti 2014-2017 yang diwakili oleh Ketua Tanfidziyah, Zacky Umam.

Salah satu program yang diunggulkan antara lain ialah siraman rohani oleh Ustadz Imran Angullia Al-Hafidz bertemakan Refleksi Keteladanan Nabi Muhammad SAW untuk Kehidupan Saat Ini yang dilaksanakan di Masjid Al-Falah, Berlin pada tanggal 1 Januari 2017 lalu. Ustadz Imran yang asli Singapura ini merupakan seorang dai muda murid dari Al-Habib Umar bin Hafidz Yaman yang aktif berdakwah di Eropa.

Melalui musyawarah yang dipimpin oleh Kiai Syaeful, para hadirin kemudian mencapai mufakat untuk memberikan amanah Ketua Tanfidziyah PCINU Jerman masa bakti 2017-2019 kepada Muhammad Rodlin Billah. Sesaat sebelum waktu menunjukkan pukul 19:00, Kiai Syaeful kemudian menutup acara dengan membaca doa. Teriring pula ucapan terima kasih atas kerja keras kepengurusan lama serta harapan bagi kepengurusan baru agar ke depannya PCINU Jerman dapat terus menggaungkan Islam Aswaja An-Nahdliyyah serta terus menebar manfaat bagi masyarakat Indonesia di bumi Jerman. (Red: Mukafi Niam)

 

Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/77445/gaung-islam-aswaja-an-nahdliyyah-di-bumi-jerman

 

Leave a Reply